Potret kehidupan mahasiswa Desain Grafis

0
186

asdad

 

Salah jika kita beranggapan bahwa teori kehidupan semua mahasiswa sama saja. Pasti ada yang bisa membedakannya dengan mahasiswa antar satu jurusan dengan yang lainnya. Lalu bagaimana dengan teori kehidupan mahasiswa desain grafis? Apakah semudah yang kita pikirkan?

Kadang kalau mendengar kata mahasiswa ekonomi, pasti tampilan yang muncul di otak kita adalah sosok pintar, gaul dan naik mobil. Kalau dengar kata mahasiswa MIPA yang muncul adalah opini berat atau mukanya rumus semua.

Bagaimana dengan mahasiswa desain grafis? Wujudnya sudah pasti normal seperti mahasiswa pada umumnya. Namun, jika diteliti lebih jauh orang bisa saja berpikir mahasiswa desain itu freak dan aneh.

Anggapan bahwa desain grafis adalah jurusan yang nyantai, mudah dan enteng adalah salah. Meskipun tidak ada mata kuliah matematika, fisika atau kimia, dalam kehidupannya mahasiswa desain selalu dikejar oleh deadline dan tugas yang tak berjeda. Contohnya, dalam mata kuliah nirmana dan tipografi. Nirmana adalah bagaimana cara membuat sebuah komposisi tanpa makna yang enak dilihat dan benar-benar baru. Sekitar 100 komposisi harus dihasilkan dalam 2 semester. Belum lagi untuk tipografi, kamu harus menciptakan huruf yang benar sebuah karya sendiri dengan berbagai macam syaratnya. Masih menganggap desain itu mudah?

Sebelum masuk ke dalam digitalisasi, semua proses harus dilakukan secara manual. Artinya, kamu mendesain via pensil dan kertas. Kebayang kan betapa repotnya? Belum lagi biaya tugas yang mencekik, seperti kertas, drawing pen, cat, kuas rapido, yang merupakan barang-barang yang tidak murah. Entah berapa kali harus dibeli demi menyelesaikan tugas-tugas desain tersebut.

Lalu, kalau sudah masuk digitalisasi apakah semuanya menjadi mudah? Tidak juga. Kamu harus berkutat berjam-jam mendesain dengan software-software tertentu. Segala hal tersebut membuat mahasiswa desain rindu tidur nyenyak. Dalam hal ini, otomatis mereka bersahabat dengan jam malam demi mengejar deadline untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Tentu hal ini sangat meleset dari perkiraan kita tentang jurusan desain sebelumnya. Namun memang inilah jalan yang harus diambil agar ketika lulus nanti bisa menjadi seorang profesional yang karyanya diakui dan bertanggung jawab.

Nyatanya menjadi mahasiswa desain grafis itu tak semudah yang diperkirakan. Memang hal ini sama dengan mahasiswa jurusan lainnya yang tak dapat dipandang sebelah mata. Jurusan desain mungkin keren dan nyantai. Tapi tetap saja dibaliknya banyak tanggung jawab berat yang harus dipikul. Dimana otak akan bekerja keras menggali kreatifitas lebih dalam lagi demi memenuhi pasar yang semakin mempunyai banyak permintaan.

Jadi, jika suatu ketika saat kamu di jalan melihat mahasiswa naik motor sambil bawa maket atau kertas ukuran A2 atau amplop ukuran A3, atau mungkin sebuah packaging yang terbuat dari kaleng bekas, silakan ditanya apakah dia mahasiswa desain atau bukan.

 

Original post : http://www.idseducation.com

Leave a Reply